Tampilkan postingan dengan label Champion League. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Champion League. Tampilkan semua postingan

Rabu, Juni 03, 2009

Barca vs MU, Sebuah Final Ideal

istYang satu adalah juara bertahan yang tampil meyakinkan di sepanjang kompetisi. Sementara sang penantang adalah klub dengan praktik sepakbola terindah saat ini. Jadi, Barcelona vs Manchester United adalah final ideal. Siapa yang akhirnya melangkah ke Roma untuk menjalani final Liga Champions musim kompetisi 2008/2009 akhirnya diketahui. Setelah berjuang selama delapan bulan dan menjalani 12 pertandingan, Barca dan MU akan bertarung memperebutkan status terbaik di Eropa. Sebelum leg kedua semifinal digelar sepanjang tengah pekan ini, banyak yang menyebut kalau final ideal adalah jika mempertemukan Barcelona dan MU ke final. Tanpa bermaksud mengecilkan arti bintang-bintang Chelsea dan pasukan belia Arsenal, ada banyak alasan untuk membenarkan pernyataan tersebut. MU dan Barca tak bisa dipungkiri kini merupakan tim dengan permainan paling atraktif di Benua Biru. El Barca mungkin lebih menghibur, namun secara umum keduanya punya gelandang dan pemain depan yang hobinya memporak-porandakan pertahanan lawan dengan umpan pendek merapat nan cepat. Ingat, keduanya kini juga jadi kanidat kuat juara di kompetisi lokal masing-masing. Barca unggul tujuh angka atas Real Madrid di La Liga, sementara The Red Devils memimpin tiga poin atas Liverpool dengan masih memiliki satu pertandingan tersisa. Hal lain yang membuat laga di Stadion Olimpico Roma pada 27 mei mendatang layak disebut final ideal adalah keberadaan individu-individu luar biasa di kedua kubu. Akan ada duel adu produktif antara Wayne Rooney-Dimitar Berbatov /Carlos Tevez- Cristiano Ronaldo dengan trisula Lionel Messi-Thierry Henry-Samuel Eto'o. Di lapangan tengah, kedua kubu juga punya pemain dengan kemampuan menyerang terbaik. MU punya Ryan Giggs, Paul Scholes dan Park Ji Sung hingga Anderson sementara duet Xavi Hernandez dan Andres Iniesta telah terbukti ampu mengantar Spanyol jadi juara Piala Eropa. Laga Barca kontra MU juga menjadi pertemuan antara tim dengan lini depan terbaik dengan tim pemilik pertahanan paling kokoh. Di Liga Champions, Barca total sudah membukukan 30 gol (rata-rata 2,5 gol/pertandingan), sementara gawang MU baru kebobolan enam kali (rata-rata 0,5 gol/pertandingan). Jadi, siapa yang terbaik di antara dua tim terbaik ini?

Barca Menapaki Jejak Milan

ReutersDua musim lalu AC Milan berhasil mengatasi serbuan Premiership dan menjadi juara Liga Champions. Di musim ini, Barcelona punya peluang menapaki sukses tersebut setelah menyingkirkan Chelsea di semifinal. Liga Inggris melalui empat klub terbesarnya telah menguasai Liga Champions dalam tiga musim terakhir. Sejak musim kompetisi 2006/2007, Liga Inggris selalu mengirimkan sampai tiga wakilnya di babak semifinal. Alhasil di kurun yang sama selalu ada klub Premier League berlaga di partai puncak. Dua tahun lalu Manchester United, Chelsea dan Liverpool melangkah ke babak empat besar mengepung AC milan, sementara tahun kemarin Barcelona mengisi tempat yang ditinggalkan Rossoneri. Untuk tahun ini formasinya sedikit berubah yakni dengan Arsenal menggantikan Liverpool dan The Catalans menjadi satu-satunya wakil non Inggris. Pada musim 2006/07 Milan berhasil keluar dari kepungan Premiership untuk kemudian jadi juara. Mengalahkan MU di semifinal dengan agregat 5-3, Diavolo Rosso menjadi kampiun setelah memetik kemenangan 2-1 atas Liverpool dalam laga final di Yunani. Setahun berselang, musim 2007/08, kedigdayaan Premiership tak tertahan. Barca kalah agregat 0-1 atas MU di laga semifinal, dan "Setan Merah" akhirnya jadi juara setelah melewati drama adu penalti dan menang 6-5 atas Chelsea. Nah, tahun ini The Catalans punya kesempatan mengulang apa yang diraih Milan dua tahun lalu. Sukses menyingkirkan Chelsea jadi bekal sempurna Barca untuk meraih gelar jawara Eropa mereka untuk kali ketiga, meski peluang meraihnya masih sangat berat lantaran yang akan dihadapi di final adalah sang juara bertahan. Bisa, Barca?

Tak Ada Rematch Final

istChelsea tingga butuh satu menit untuk menciptakan sejarah dengan membuat partai rematch Liga Champions. Tapi gol Andres Iniesta di masa injury time akhirnya cuma menyisakan kekecewaan buat The Blues. Tiket ke final sepertinya akan jatuh ke tangan Chelsea setelah Michal Essien membuat gol spektakuler ketika laga baru berjalan sembilan menit. Setelahnya, meski lebih banyak mengandalkan serangan balik, The Blues berhasil mematikan kedahsyatan lini depan Barcelona yang memang terkenal haus gol itu. Didier Drogba dan Nicolas Anelka malah punya peluang matang menambah keunggulan tuan rumah, peluang yang tak satupun berhasil diselesaikan menjadi gol oleh keduanya. Chelsea pun harus membayar kegagalan tersebut karena Barca malah mampu menyamakan kedudukan saat masa injury time tersisa satu menit saja. Gol Andres Iniesta yang membuat kedudukan imbang 1-1 menjadikan Barca pemegang sah tiket ke final karena unggul agresivitas gol tandang. Sejarah rematch final Liga Champions pun batal terjadi. Sebelumnya Chelsea memang berpeluang mengukir catatan baru di kompetisi antarklub papan atas Eropa itu, menyusul sukses Manchester United menundukkan Arsenal 3-1 sehari sebelumnya. Jika lolos ke final, The Blues dan The Red Devils akan menjadi tim pertama yang bisa kembali berhadapan di final Liga Champions. Musim lalu dalam pagelaran final di Luzhniki Stadium, Moscow, MU berhasil menundukkan saudara Premiershipnya itu dengan skor 6-5 lewat adu penalti. Sebelumnya, kedua kesebelasan bermain imbang 1-1 di waktu normal. Dengan lolosnya Barca ke final, tinggal MU yang berpeluang menuliskan rekor baru Liga Champions. Jika bisa menang dalam laga di Stadion Olimpico pada 27 Mei mendatang, anak asuh Sir Alex Ferguson akan menjadi klub pertama yang mempertahankan tropi Liga Champions setelah kompetisi tersebut berubah format pada 1992 lalu. Foto: MU vs Chelsea di final musim lalu.

Iniesta Pahlawan Barca

AFP/Carl de SouzaTertinggal di lebih dari 81 menit, Barcelona akhirnya mengimbangi Chelsea 1-1. Andres Iniesta tampil sebagai pahlawan Barca melalui golnya di menit ketiga injury time. Di Stamford Bridge, Kamis (7/5/2009) dinihari WIB, Chelsea unggul terlebih dahulu di menit kesembilan melalui sepakan kaki kiri nan spektakuler dari Michael Essien sebelum bencana datang di menit pamungkas. Jalannya pertandingan Barcelona cukup percaya diri dengan mengambil alih kendali permainan di awal laga. Menit keempat, sebuah tendangan dari Xavi Hernandez diusir oleh barikade bek Chelsea di garis gawang. Memasuki menit ke-8, Chelsea berhasil unggul. Tendangan spektakuler Essien menyambar bola muntah dari tendangn Frank Lampard melesak masuk gawang Barca tanpa mampu dicegah kiper Victor Valdes. Chelsea berpeluang menambah gol di menit 16 ketika kerjasama Lampard dengan Florent Malouda meloloskan Lampard di dalam kotak penalti Barca. Namun tendangan kaki kiri Lampard jauh melebar dan tinggi. Barcelona mendapat tendangan bebas pada jarak 34 meter dari gawang Chelsea di menit 20. Dani Alves mengeksekusinya dengan cukup baik tetapi bola melebar di kiri gawang Petr Cech. Valdes bereaksi cepat ketika menghadang peluang Didier Drogba di menit 22. Kiper Barca itu keluar sarang mengusir bola dengan Drogba tengah mengejar. Selamat lagi pertahanan Los Azulgrana. Dua menit kemudian, Chelsea memperoleh tendangan bebas di sisi kiri kotak penalti Barca. Tendangan Drogba yang menjadi eksekutor mengarah ke gawang, tetapi Valdes dengan cemerlang menahan bola dengan pahanya. Chelsea mengklaim berhak mendapat penalti di menit 26 ketika Drogba bersenggolan dengan Eric Abidal di kotak penalti Barca. Tetapi wasit Tom Henning Ovrebo menolaknya. Di sisa babak, bola lebih banyak berkutat di lapangan tengah. Pada menit terakhir babak pertama ini, peluang dari Barca melalui tendangan Xavi berbelok arah karena membentur badan bek Chelsea. Enam menit memasuki babak kedua, Chelsea berpeluang menambah gol. Drogba mendapat umpan matang dari Anleka dan tak terjaga. Mengecoh Gerard Pique, tendangan Drogba terlalu pelan dan ditahan Valdes dengan kakinya. Empat menit berselang, Drogba kembali mendapat peluang dengan membawa bola di kotak penalti Barca dengan dikawal Yaya Toure, Drogba terjatuh dan meminta penalti, tetapi wasit menepisnya. Saat pertandingan tepat menyentuh marka satu jam, aksi Iniesta di daerah Chelsea diakhiri umpan kepada Seydou Keita. Setengah berbalik badan, sepakan Keita tak menemui sasaran karena melambung. Lima menit kemudian, tim tamu dipaksa bermain dengan 10 orang. Eric Abidal diusir wasit akibat dianggap menjatuhkan Anelka. Dari tayang ulang, terlihat kontak di antara mereka terhitung minimal. Lampard gagal menambah keunggulan Chelsea di menit 70. Menguasai bola di dalam kotak penalti Barca, tendangan gelandang Inggris itu berbelok arah karena menabrak kaki bek lawan tetapi bisa diamankan Valdes. Barca terus berusaha mencari gol. Memasuki menit ke-79, Pique yang overlapping, menguasai bola di luar kotak penalti dan menendang. Namun sepakan sang bek terlalu lemah dan arahnya pun melebar ke kanan. Delapan menit sebelum bubaran, wasit Ovrebo membuat kesalahan dengan tidak memberi Chelsea penalti. Padahal, Pique dengan sangat jelas menyentuh bola dengan tangannya di kotak terlarang. Di menit ketiga perpanjangan waktu, upaya Barca membuahkan hasil. Mendapat umpan dari Messi, Iniesta yang tak terjaga menendang bola dengan kaki kanan dan melesak masuk ke gawang tanpa mampu dicegah Cech. Memasuki menit kelima menit tambahan, dari korner Chelsea, bola terlihat mengenai tangan Eto'o. Tetapi wasit kembali membiarkan dan hal itu memancing amarah para pemain tuan rumah, terutama Michael Ballack. Tak lama kemudian, wasit menyudahi pertandingan. Tetapi tidak dengan amarah para pemain Chelsea kepada Ovrebo. Drogba terlihat memrotes keras wasit asal Norwegia itu sehingga dikenai kartu kuning.

Barcelona Tantang MU

AFP/Carl de SouzaBarcelona menantang Manchester United di partai final Liga Champions. Di laga kedua semifinal melawan Chelsea, Los Blaugrana bermain imbang 1-1 dan berhak atas satu tiket final. Dalam laga yang digelar di Stamford Bridge, Kamis (7/5/2009) dinihari WIB, Chelsea unggul cepat melalui gol spektakuler Michael Essien di menit kedelapan. Gol itu bertahan sampai akhir-akhir pertandingan sebelum Barca menyamakan skor. Barca yang bermain kurang bagus akhirnya bisa menjadikan skor 1-1 di injury time. Adalah Andres Iniesta yang menyelamatkan Barca ketika ia menjebol gawang Chelsea melalui tendangan kerasnya. Dengan hasil ini, Barca berhak ke final berkat keuntungan mencetak gol di kandang lawan meski agregat berada di posisi imbang 1-1. Di leg pertama, pertarungan keduanya berkesudahan 0-0. Susunan pemain Chelsea: Cech; Bosingwa, Alex, Terry, Cole; Essien, Ballack, Lampard, Malouda; Anelka, Drogba (Belletti 72) Barcelona: Valdes; Alves, Pique, Toure, Abidal; Busquets (Bojan 85), Keita, Xavi, Iniesta (Sylvinho 90); Eto'o (Gudjohnsen 90), Messi.

Park, Asia Pertama di Final Liga Champions?

ReutersSir Alex Ferguson sama sekali belum mengumumkan siap saja yang akan dibawa ke Roma. Tapi dia memberi indikasi kuat kalau Park Ji Sung akan menjadi Asia pertama yang tampil di final Liga Champions. Adalah penampilan gemilang Park saat MU menundukkan Arsenal yang membuat Fergie memberi indikasi kuat kalau dia bakal dimainkan di final. Selain bikin gol pertama The Red Devils, pesepakbola yang didatangkan dari PSV Eindhoven itu dinilai Fergie punya peran besar yang membuat lini tengah MU menggungguli gelandang-gelandang The Gunners. "Saya pikir dia tak akan kecewa kali ini," ungkap Fergie seperti diberitakan Dailymail. Tahun lalu Park memang dipaksa menelan kekecewaan besar saat namanya bahkan tak masuk daftar pemain cadangan saat MU menundukkan Chelsea di final Liga Champion. Padahal dia bermain sangat baik saat membantu "Setan Merah" menundukkan Barcelona di semifinal, nama Park bahkan terpilih sebagai man of the match dalam laga tersebut. "Dia adalah pemain yang paling dipandang remeh sepanjang pertandingan...Dia tak pernah berhenti berlari. Pergerakan dan pemahamannya akan permainan sangat-sangat baik," lanjut fergie memuji pesepakbola yang memulai karirnya di Kyoto Purple Sanga itu. Jika Fergie menepati janjinya untuk memainkan Park di pertandingan final, maka gelandang 28 tahun itu akan mengukir sejarah sebagai orang Asia pertama yang bermain di final Liga Champions.

Bunuh Diri karena Arsenal

 Di London, Arsenal disisihkan Manchester United di semifinal Liga Champions. Ribuan kilometer jauhnya dari sana, tepatnya di Kenya, seorang pendukung The Gunners bunuh diri. Suleiman Omondi ditemukan tewas tergantung di rumahnya yang terletak di kawasan kelas menengah di Nairobi, Kenya, Selasa (5/5/2009) waktu setempat. Pria berusia 29 tahun itu bunuh diri dengan mengenakan seragam Arsenal. Beberapa saksi mengatakan, Omondi meninggalkan bar tempatnya menyaksikan kekalahan 1-3 Arsenal dengan muka sedih. Masyarakat Nairobi memang terkenal menggemari Liga Inggris dan Liga Champions dan senang nonton bareng di tempat-tempat umum. "Dia minum, lalu jatuh menangis dalam beberapa menit terakhir pertandingan," ujar seorang saksi di bar yang minta namanya disimpan kepada Reuters. Sebelum pulang Omondo juga berusaha menyerang seorang pengunjung bar lain yang bilang padanya bahwa Arsenal tidak akan mampu mengejar ketinggalan dua gol MU. Perkelahian bisa dicegah oleh pelayan bar. Polisi mengaku bahwa mereka mendapat panggilan untuk datang ke rumah Omondi pada Rabu (6/5) pagi. "Dari informasi yang kami kumpulkan, bunuh diri ini terkait dengan pertandingan Arsenal melawan MU," kata kepala polisi wilayah Embakasi David Bunei.

Tuan Rumah Diprediksi Kalah

(AFP)Tampil impresif dan produktif menjadi faktor yang membuat Barcelona mendapatkan predikat unggulan menjelang laga semifinal leg kedua Liga Champions di kandang Chelsea. Dari hasil polling detiksport tentang laga Barcelona versus Chelsea, hingga pukul 12:00 WIB, 1.041 dari total 2.081 responenden atau 50,02 persen, menjagokan Barca akan melaju. Sementara itu yang memilih The Blues akan berlaga di partai puncak adalah 994 responden atau 47,77 persen. Sisanya memilih ragu-ragu. Kondisi serupa juga terjadi di rumah taruhan ternama, BWIn di mana Barcelona unggul dengan poin 2,30 berbanding 2,75 milik Chelsea. Sementara di Paddy Power, kedua tim memiliki kans yang sama untuk menang, yakni 13/8. Namun di rumah taruhan ini Barca merupakan unggulan untuk urusan lolos ke babak selanjutnya di Liga Champions. Azulgrana dijagokan dengan angka 4/7 sementara Chelsea 5/4. Hal berlawanan terjadi di William Hill di mana tim London Barat diunggulkan dengan angka 7/4 berbanding 13/8 milik tim asal Catalan itu. Dijagokannya Barca bisa jadi karena penampilan impresif mereka baik di semua kompetisi yang mereka ikuti. Di Liga Spanyol, tim besutan Josep Guardiola ini sukses mencetak 100 gol. Angka itu masih bisa bertambah, sebab La Liga masih menyisakan empat partai lagi. Tim elite pun bukanlah masalah bagi Lionel Messi cs. Buktinya, di Liga Champions Bayern Munich pernah digelontor empat gol tanpa balas. Sementara di ajang Liga Spanyol, Real Madrid dibabat 6-2. Meski begitu, Barcelona tidak boleh besar kepala. Pertandingan masih belum berlangsung dan apa pun bisa terjadi. "Kami menghadapi rival kuat. Yah, inilah Liga Champions. Bila kami ingin ke final, maka jalan yang harus dilalui tidaklah pernah mudah dan kami harus menghadapi tim-tim besar," demikian bek kanan Barcelona Daniel Alves dikutip dari Goal.

Evra: Sukses 11 Pria atas 11 Bocah

REUTERS/Eddie KeoghKemenangan Manchester United atas Arsenal dipanaskan dengan komentar bek MU Patrice Evra. Dia menyebut timnya yang terdiri dari 11 pria baru saja menang atas 11 bocah. Bermodal hasil 1-0 di Old Trafford, MU lantas menggilas Arsenal di Emiratses, Rabu (6/5/2009) dinihari WIB. Dalam pertemuan kedua itu 'Setan Merah' menang 3-1 sehingga lolos ke final dengan agregat 4-1. "Bahkan hari ini kami membuktikan diri sebagai tim tangguh. Mereka bicara tentang sepakbola indah Arsenal, tapi tak seperti mereka kami kebobolan lebih sedikit dan menang, selain juga bermain bagus," ujar Evra kepada Sky Sport yang diwartakan Goal. "Hari ini, kami juga bisa saja menang 3-0. Dalam sepakbola bermain indah bukan segalanya," lanjut dia. Kemenangan cukup meyakinkan atas Arsenal tersebut juga dinilai Evra menunjukkan kelas MU atas Arsenal. "Kami 11 orang pria, mereka 11 bocah; itulah bedanya. Kami lebih matang dan lebih pede." Evra dikabarkan menjalani laga tersebut dengan sakit pada bagian perutnya. Dia bermain selama 65 menit sebelum ditarik keluar untuk digantikan Rafael Da Silva.

Bungkam Arsenal 3-1, MU ke Final

AFPManchester United tampil perkasa saat bertandang ke Arsenal melakoni leg kedua semifinal Liga Champions. Membawa pulang kemenangan 3-1, The Red Devils kembali melangkah ke final. Kemenangan ini membuat The Red Devils secara agregat unggul 4-1 setelah pada leg pertama di Old Trafford pekan kemarin juga unggul 1-0. MU pun memastikan lolos ke final untuk kali kedua secara beruntun dan punya kesempatan untuk mempertahankan gelarnya. Di final, "Setan Merah" akan menghadapi pemenang laga Barcelona kontra Chelsea yang akan bertanding malam nanti. Keunggulan 3-1 MU terhitung mengejutkan karena Ryan Giggs cs sebelumnya tak pernah menang di Emirates Stadium. Apalagi pada pertemuan pertama pekan lalu anak didik Sir Alex Ferguson cuma bisa menang 1-0 lewat gol John O'Shea. Publik Emirates Stadium, Rabu (6/5/2009), dibuat bungkam oleh gol Park Ji Sung saat laga baru berjalan delapan menit. Cristiano Ronaldo menggandakan keunggulan tiga menit berselang lewat sebuah tendangan bebas yang dia lepaskan jauh dari kotak penalti. CR7 memperbesar keunggulan MU di menit 61. Sementara gol tunggal The Gunners datang dari penalti Robin van Persie menyusul pelanggaran yang dilakukan Darren Fletcher terhadap Cesc Fabregas di kotak terlarang, insiden mana membuat gelandang Skotlandia itu mendapat kartu merah langsung dari wasit. Susunan Pemain Arsenal: 1-Manuel Almunia; 3-Bacary Sagna, 5-Kolo Toure, 20-Johan Djourou, 40-Kieran Gibbs; 14-Theo Walcott, 4-Cesc Fabregas, 17-Alex Song, 8-Samir Nasri; 11-Robin van Persie; 25-Emmanuel Adebayor. Manchester United: 1-Edwin van der Sar; 22-John O’Shea, 5-Rio Ferdinand, 15-Nemanja Vidic, 3-Patrice Evra; 7-Cristiano Ronaldo, 24-Darren Fletcher, 16-Michael Carrick, 8-Anderson, 13-Park Ji-sung; 10-Wayne Rooney.

Selasa, Mei 12, 2009

Sepasang Anak Muda di Depan Valdes

Caceres - Pique (Reuters)Lini tengah dan depan Barcelona dijamin komplet saat menghadapi Chelsea. Tapi tidak di lini belakang. Pep Guardiola hanya punya dua anak muda yang dijadikan duet stopper. Kuatkah? Itulah pertanyaan yang wajar disodorkan pada Barca, yang besok malam akan bertandang ke London untuk menghadapi The Blues di leg kedua semifinal Liga Champions. Dari pertandingan pertama di Nou Camp minggu lalu, dua bek tengah utama Barca mengalami nasib sial. Rafael Marquez cedera berat, sementara kapten Carles Puyol, yang menggantikan bek Meksiko itu di babak kedua, terkena skorsing akibat akumulasi kartu kuning. Ditambah Gabriel Milito masih dibalut cedera panjang, hanya Gerard Pique centre back yang segar bugar. Untuk menemaninya dan menjadi tembok terdekat buat kiper Victor Valdes, disiapkanlah anak muda lain bernama Martin Caceres. Walaupun masih 22 tahun, Pique terbukti sudah makin mumpuni kemampuannya. Pemain yang pernah bermain di Manchester United ini bahkan sudah dilirik timnas Spanyol. Juga, ia dalam konfidensi tinggi setelah ikut mencetak satu gol saat Barca meremukkan Real Madrid 6-2 di Bernabeu hari Sabtu lalu. Bagaimana Caceres? Bagaimana pula kekompakan dia dengan Pique, mengingat mereka sangat jarang bertandem. Faktanya, pemain asal Uruguay itu baru turun ke lapangan sebanyak 20 kali di semua kompetisi, tujuh di antaranya sebagai pemain pengganti. Aksinya sebagai starter terbanyak cuma di Piala Raja Spanyol alias Copa del Rey. Pique mencoba meyakinkan para suporternya bahwa Caceres bukanlah pemain muda kacangan. Salah satu buktinya adalah ia sudah masuk timnas senior Uruguay. Duet mereka, yang sama-sama berusia 22 tahun, bukanlah sesuatu yang buruk. "Di semua pertandingan yang telah ia mainkan, dia (Caceres) telah membuktikan bahwa dia merupakan pemain bertahan yang bagus. Dia cepat dan kuat. Untuk pertandingan hari Rabu dia akan menjadi pemain yang vital bagi kami," tukas Pique seperti dilansir YahooSport.

Fabregas: Harga Pemain Bukan Ukuran

Arsenal (AFP/Ian Kington)Cesc Fabregas menceburkan dirinya dalam panasnya atmosfer duel Arsenal versus Manchester United nanti malam. Ia mempersoalkan mahalnya bintang-bintang The Red Devils dibanding The Gunners. Skipper Arsenal ini membenarkan kebijakan manajernya, Arsene Wenger, yang selalu berhati-hati dalam membeli pemain berbanderol tinggi. Dan dia yakin, kemenangan tengah malam nanti akan membuktikan bahwa pemain mahal bukanlah jaminan kesukesan. "Hanya karena seorang pemain dihargai 20 juta poundterling, itu tidak berarti dia lebih baik dari pemain berbanderol 2 juta pounds," tukas Fabregas seperti dilansir The Sun. Di musim ini MU membeli Dimitar Berbatov di angka 30 juta pounds, hampir dua kali lipat dari pembelian Andrei Arshavin oleh Arsenal. Fabregas sendiri cuma berharga 500 ribu pounds sewaktu bergabung ke "Gudang Peluru" dari akademi Barcelona di tahun 2003. Wenger dikenal sebagai manajer yang jarang membeli bintang jadi. Bakary Sagna, Abu Diaby, Carlos Vela atau bahkan Emanuel Adebayor, misalnya, belumlah seterkenal sekarang sampai dibawa ke London utara oleh Wenger. "Ini terbukti dari pemain masa lalu klub ini seperti Patrick Viera, Dennis Bergkamp, Robert Pires dan Thiery Henry. Mereka terbaik di dunia, pemain yang mampu memenangi Piala Dunia dan Liga Champions. Sementara banyak pemain yang dibanderol 20 atau bahkan 30 juta pounds yang tidak memenangi apapun," Fabregas melanjutkan pandangannya. Untuk pertandingan nanti malam, estimasi harga skuad MU yang jadi line up ditaksir lebih tinggi lebih dari 100 juta pounds dibandingkan Arsenal. Tapi ditekankan Fabregas, bukan itu faktor yang akan memainkan peranan besar. "Kami tidak bermain maksimal di Old Tarford (kalah 0-1--Red). Tapi tentu saja berbeda halnya jika Anda bermain di kandang sendiri. Anda bermain dengan teriakan dukungan di pihak Anda. Anda akan tahu kapan dan di mana memainkan bola." "Selama kami kuat dan kompak, memberi tekanan pada MU dan tidak membiarkan mereka berkembang, kami punya kesempatan besar untuk lolos ke final," papar gelandang yang kemarin genap berusia 22 tahun itu.

Cerita Suram di Markas Lawan

(AFP)Meski Mengantongi kemenangan di semifinal leg pertama, manajer Manchester United Sir Alex Ferguson masih belum bisa tenang. Pasalnya, setiap melakoni semifinal leg kedua di markas lawan, MU hampir selalu tersungkur. MU tampaknya kurang hoki ketika melakoni senifinal leg kedua di kandang lawan. Di musim 1996/97, mereka tersungkur di tangan Borrusia Dortmund. Di Westfalen Stadion, markas Dortmund, The Red Devils harus menyerah 1-0. Kekalahan itu mengakhiri perjalanan MU dengan agregat kekalahan 2-0. Lima tahun berselang, giliran klub Jerman lain Bayer Leverkusen yang mengakhiri petualangan MU. Setan Merah memasuki Bay Arena, markas Leverkusen dengan beban harus menang akibat skor 2-2 yang ditorehkan di Old Trafford di leg pertama. Namun, ambisi mereka harus terhenti akibat hanya bermain imbang 1-1 di Bay Arena. Tahun 2006/07, giliran AC Milan yang menjegal mimpi The Fergie Babes. Keunggulan 3-2 yang diperoleh di Manchester gagal dipertahankan. Di Milan, Cristiano Ronaldo dkk. dipaksa menyerah 0-3. Masa lalu kelam ini pun masih tertanam di benak Sir Alex. "Kami memang unggul dan tinggal selangkah lagi untuk menuju Roma guna melakoni final. Namun, kami tidak boleh puas dengan kondisi ini. Sekali lagi, kami tidak boleh puas," demikian wanti-wanti Ferguson dikutip dari situs resmi MU. Fergie menyatakan, itu bukan kutukan. Sebab di musim 1998/99, MU memastikan tiket ke final dengan kemenangan di markas Juventus. "Banyak faktor yang membuat kami gagal ke final. Namun kami pernah bisa mengatasinya dan saya harap kami bisa mengulanginya," tutupnya.

'Setan Merah' Andalkan Pengalaman

Mu united (AFP/Andrew Yates)Jika berbicara soal pengalaman, Manchester United lebih sering memijak semifinal Liga Champions ketimbang Arsenal. Namun, untuk urusan lolos ke babak final, The Gunners jelas lebih efisien. Menurut catatan yang tertera di situs resmi klub, MU sudah 10 kali menjadi semifinalis di Liga Champions. Musim ini merupakan semifinal ke-11 mereka di kompetisi antarklub Eropa itu. Namun, dari 10 kesempatan itu, The Red Devils hanya mampu lolos ke final sebanyak tiga kali. Dan di sinilah hebatnya. MU tak pernah menyia-nyiakan kesempatan tampil di final, mereka selalu keluar sebagai juara dalam tiga kesempatan itu. Sebaliknya bagi Arsenal, musim ini merupakan semifinal kedua mereka. Pada semifinal pertama mereka pada tahun 2006, The North Londoners langsung sukses memijak final. Sial bagi mereka, di partai puncak mereka takluk di tangan Barcelona. Melihat data tersebut, MU jelas lebih berpengalaman dalam menghadapi babak semifinal Liga Champions. Tetapi Arsenal sangat berpeluang untuk kembali mengulangi hal yang sama seperti tahun 2006. Dengan kemenangan 1-0 di leg pertama, sepekan lalu, MU sedikit berada di depan. Laga di Emirates Stadium, Rabu (6/5/2009) dinihari WIB, pun diprediksi bakal seru lantaran Arsenal sudah menyatakan akan membalas kekalahan dengan lebih banyak gol. Namun, Michael Carrick yakin bahwa pengalaman MU di Eropa bakal banyak membantu. Bagi gelandang internasional Inggris ini, semifinal kali ini merupakan yang ketiga untuknya sejak bergabung dari Tottenham Hotspur tahun 2006. "Anda mendapatkan sedikit pengalaman dan itu jelas sangat membantu, tapi dengan pertandingan hidup-mati besok, siapa tahu, pertandingan ini bisa dimenangi siapa saja. Mereka punya tim yang bagus, tak hanya di lini tengah, tetapi juga secara keseluruhan," ujarnya di situs resmi UEFA.

Lupakan Euforia di Bernebeu

Pique (Reuters)Kubu Barcelona sedang diselimuti suasana bahagia pasca kemenangan besar di Santiago Bernabeu. Namun, mereka diingatkan supaya segera fokus pada laga melawan Chelsea besok malam. "Kami harus berhenti membicarakan kemenangan 6-2 atas Real Madrid. Itu sudah lewat," tukas bek muda Gerard Pique dalam jumpa pers sebelum pertandingan, seperti dilansir Yahoo Sport, Selasa (5/5/2009). "Tidak ada untungnya buat kami membicarakan itu terus. Pastinya itu merupakan hasil yang bagus dan kami sudah merayakannya. Namun jika kami tak bisa lolos dari semifinal Rabu nanti, apa yang terjadi Sabtu kemarin akan jadi hal kedua." "Kita harus tetap berpijak di bumi. Kami punya kapasitas dan kualitas, tapi dalam beberapa tahun terakhir kita sering melihat, tim-tim besar yang tampak mendominasi Spanyol dan sepakbola Eropa berakhir dengan kekecewaan," tutur pemain yang pernah menimba ilmu di Manchester United tersebut. Barca akan bertanding di London setelah ditahan imbang tanpa gol oleh Chelsea di Nou Camp minggu lalu. Meski bertindak sebagai tim tamu, Pique menegaskan bahwa tidak ada dalam kamus timnya tidak bermain menyerang. "Yang Barca tahu hanya bermain untuk menang. Itu sebabnya kami akan habis-habisan dan menyerang. Kalau kami bisa mencegah lawan memperoleh banyak sepak pojok, dan menghindari melakukan pelanggaran di areal berbahaya, kami bisa menang," pungkasnya.

Jangan Sampai Kena Kartu, Roo

MU vs Arsenal (AFP/Paul Ellis)Manajer Manchester United, Sir Alex Ferguson mewanti-wanti Wayne Rooney agar jangan sampai mendapatkan kartu pada laga melawan Arsenal, Rabu (6/5/09) dinihari WIB. Pasalnya jika ia sampai terkena kartu, maka ia tidak dapat tampil pada laga final di Roma, kalau MU lolos. MU melawat ke Emirates Stadium dengan bekal kemenangan 1-0 dari leg pertama. Pada pertemuan leg di Old Traford itu, kedua tim bermain dengan tempo cepat. Saat itu 'Setan Merah' lebih banyak menciptakan peluang dan mendominasi permainan. Pada leg kedua nanti, Arsenal yang bertindak sebagai tuan rumah diprediksi akan mengambil inisiatif serangan sejak menit awal pertandingan. Hal ini membuat Feruson mewanti-wanti Rooney agar tak terpancing dengan tensi pertandingan. Pasalnya penyerang yang terkenal emosional ini sudah mengantongi satu kartu kuning, dan satu kartu kuning lagi akan membuatnya terkena suspensi. Namun pelatih berusia 67 tahun ini percaya sepenuhnya pada Rooney. Ia menganggap bahwa pemain berusia 23 tahun itu sudah cukup dewasa untuk melihat situasi pada laga nanti. "Dia mengerti hal ini dengan sepenuhnya, dia pemain yang dewasa. Dia perlu untuk tetap disiplin dan pada kebanyakan waktu-waktu sebelumnya dia dapat melakukan hal itu. Saya tidak perlu mengatakan hal ini langsung kepadanya," tukas pelatih asal Skotlandia ini seperti dilansir The Sun. Namun pelatih berusia 63 tahun ini juga menggarisbawahi tentang Roberto Rosetti, wasit yang akan memimpin laga di Emirates tersebut. Menurutnya sang pengadil di lapangan tidak akan terlalu mudah menghadiahi kartu kepada pemain. "Wasit dari Italia yang akan memimpin pertandingan ini, Roberto Rosetti, dia mengerti tentang permasalahan serius jika seorang pemain mendapatkan kartu dan tidak dapat bermain di final karenanya." "Saya memiliki catatan tentang wasit ini, sangat profesional dan cukup toleran. Mereka cukup baik dalam mengendalikan situasi." Fergie sebelumnya pernah merasakan pemain pilarnya tidak dapat bermain di final Liga Champions. Pada tahun 1999, Roy Keane dan Paul Scholes yang merupakan pilar di lini tengah, tidak dapat bermain di final karena permasalahan yang sama. Namun akhirnya United dapat meraih gelar juara Eropa di musim itu.

Wenger: Bukan Mission Impossible

Arsenal (Reuters)Tuntutan menang tidak membuat manajer Arsenal Arsene Wenger kecil hati. Menurutnya, tuntutan itu bukanlah misi yang mustahil. Wenger yakin bila anak asuhnya mampu tampil luar biasa, maka tiket ke final ada digenggaman. Arsenal akan menjamu Manchester United dalam semifinal leg kedua Liga Champions, Rabu (6/5/2009) dengan modal kekalahan 0-1 di leg pertama. Dalam laga leg pertama, MU tampil dominan. Dari data di situs UEFA, tim asuhan Sir Alex Ferguson mencatat delapan kali tembakan ke arah gawang Manuel Almunia. Sebaliknya, Arsenal hanya satu kali menembak ke gawang MU. The Red Devils pun menguasai pertandingan dengan penguasaan 55% berbanding 45%. Arsenal pun memiliki sejarah 'buruk' ketika bertemu tim-tim asal Inggris. Namun ini semua bukanlah sebuah hal yang tidak mungkin bagi Wenger. "Tidak ada yang namanya misi mustahil bagi kami. Saya tetap yakin akan hal itu meski MU bisa merobek gawang kami nantinya," tukas manajer asal Prancis itu dikutip dari situs resmi UEFA. "Saya percaya bahwa anak-anak akan tampil sangat luar biasa dan lolos. Kami bermain di kandang sendiri di mana catatan hasil kandang kami di Liga Champions sangat baik," seru Wenger sembari merujuk pada catatan The Gunners yang 24 pertandingan tak terkalahkan di markas sendiri. "Buat orang kebanyakan, kami bukanlah favorit. Namun kami yakin kami bisa melakukannya," tutup The Professor.

Selasa, Mei 05, 2009

Bakal Cepat dan Intens

Mu vs Arsenal (AFP/Paul Ellis)Manchester United memiliki modal keunggulan satu gol kala bertandang ke markas Arsenal pada leg II semifinal Liga Champions. Namun, karena The Gunners tak akan akan menyerah begitu saja, laga pun diprediksi bakal berjalan cepat dan intens. Sepekan silam di Old Trafford, gol tunggal John O'Shea membawa MU menang 1-0. Meski relatif lebih mendominasi jalannya laga, The Red Devils urung mencetak lebih banyak gol karena gemilangnya penampilan Manuel Almunia di bawah mistar Arsenal. Di Emirates Stadium, Rabu (6/5/2009) dinihari WIB, MU bertekad untuk mengulangi performa serupa seperti di Theatre of Dreams. Michael Carrick menyebut, kunci untuk memainkan pola yang sama terletak pada kreativitas para gelandang. "Lini tengah akan menjadi kunci utama. Kita bisa menang atau kalah dari area tersebut. Pekan lalu kami bermain sangat bagus, terutama di babak pertama, dan meraih beberapa hal yang kami targetkan. Saya cukup puas dengan hal itu," ujarnya di situs resmi UEFA. "Tapi kamu harus tampil segar untuk besok dan melakukan hal yang sama lagi. Kami memiliki tugas untuk dilakukan dan saya yakin ini akan menjadi laga yang intens dan cepat, juga laga yang seru untuk disaksikan," tandasnya. Arsenal sendiri bertekad untuk mencetak lebih banyak gol guna membalas kekalahan di Old Trafford. Sang kapten, Cesc Fabregas, menyebut timnya memiliki keuntungan lebih besar dengan berlaga di hadapan pendukung sendiri. "Kami tahu di rumah kami tangguh. Kami akan punya fans di belakang kami, mereka luar biasa dan saya yakin akan itu. Kami hanya harus memainkan permainan kami, percaya diri kami mampu karena saya tahu kami bisa."

Tak Ada Kata Lelah

Pep Guardiola (AFP/Josep Lago)Setelah bermain habis-habisan melawan Real Madrid, Barcelona menghadapi ujian berikutnya di semifinal Liga Champions kontra Chelsea. Akankah El Barca kelelahan? Tidak! Barcelona memang menelan Madrid 6-2 di Santiago Bernabeu. Tetapi kekhawatiran mencuat seputar kebugaran pemain mengingat Carles Puyol dkk hanya punya waktu rehat kurang dari empat hari setelahnya. Partai melawan Madrid berlangsung Sabtu (2/5/2009) dan laga meladeni Chelsea akan digelar Rabu (6/5). Meski begitu, sempitnya waktu rehat pemain tidak membuat cemas pelatih Barcelona, Pep Guardiola. "Ketika seorang pemain sudah sangat dekat ke Roma (tempat partai final), maka tidak ada itu yang namanya kelelahan," ungkap Guardiola yakin seperti dikutip YahooSports. Mengenai kualitas permainan, tidak ada keraguan lagi, Barca adalah tim terbaik saat ini. Kemampuan mereka menghajar Madrid di kandang lawan memperlihatkan bahwa Los Azulgrana bisa bermain ganas di manapun. Tak terkecuali saat harus menghadapi tekanan suporter Chelsea di Stamford Bridge nanti. Main kandang atau tandang, target Guardiola tidak berubah: Barcelona harus menang. Hasil 0-0 yang didapat di Camp Nou pekan lalu akan coba ditebus. Menang atau seri dengan skor minimal 1-1 akan meloloskan tim Catalunia itu ke laga final di Roma, 27 Mei mendatang. "Kami akan pergi ke sana untuk menang. Kami akan menyerang dan lolos ke final di Roma. Chelsea tahu itu. Hasil (di leg pertama) itu membantu kami," pungkas Guardiola yakin.

Fergie Incar Serangan Balik

ReutersManchester United berencana memastikan tiket lolos dengan cara bikin gol di kandang Arsenal. Itu akan diretas 'Setan Merah' dengan cara yang tepat: serangan balik. MU akan menjalani leg dua di Emirates dengan keuggulan tipis 1-0 berkat gol John O'Shea di leg pertama. Dengan keunggulan tipis itu, Cristiano Ronaldo cs belum aman. Dengan pertemuan kedua dihelat di markas Arsenal, Sir Alex Ferguson yakin kalau tim tuan rumah akan dipaksa menyerang untuk coba menang. Untuk memanfaatkannya, MU akan berusaha lebih mengefektifkan peluang. "Kami harus ke sana dengan niat bikin gol, saya pikir kami akan mencetaknya, dan penting untuk bisa memberi ancaman. Itu akan bikin kami dalam posisi bagus tapi saya pikir akan sengit. Bakal berjalan menarik," kata Fergie di Reuters, Selasa (5/5/2009). Beberapa kali MU pernah kecurian kala Fergie menginstruksikan para pemainnya sesegera mungkin menghabisi lawan. Maka dari itu dia kini mengisyaratkan kehati-hatian, sangat mungkin dengan mengedepankan counter attack. "Serangan balik adalah bagian dari sepakbola modern dan juga sesuatu yang amat berkembang dalam sepakbola Eropa selama enam atau tujuh tahun terakhir." "Setelah kami juara tahun 1999, kami pernah menggunakannya ketika kami tampil mengecewakan dan harus mengubah cara berpikir. Kami kalah dari PSV Eindhoven dan Anderlecht dan juga di partai lain, semua karena seragan balik. Tapi sudah ada konsistensi bagus dalam beberapa tahun terakhir," ulas Fergie. Secara khusus, pertandingan melawan Arsenal sendiri dinilai manajer asal Skotlandia itu takkan menghadirkan banyak kejutan karena kedua tim sudah amat saling mengenal di kancah domestik. "Ada pengetahuan lebih mendalam ketimbang partai Eropa biasa. Kami melihat mereka tiap pekan, berkompetisi tiap musim. Tak ada yang kami tidak tahu tentang mereka dan begitu juga sebaliknya, dan dengan adanya analisa video tak ada lagi yang bisa disembunyikan," demikian Fergie.