Sabtu, April 25, 2009

Ronaldinho, New Il Diavolo Rosso

Ronaldinho (dtc) Ronaldinho akhirnya menuju AC Milan. Terlepas dari belum dikontraknya ia secara resmi oleh Rossoneri, Ronaldinho sudah dimasukkan sebagai the new Il Diavolo Rosso, pemain baru 'Setan Merah' Milan. Pro kontra mewarnai langkah Ronaldinho menuju Milan. Clarence Seedorf, yang tempatnya terancam di starting eleven Milan, langsung melepaskan protes disusul ancaman hengkang bila pemain berusia 28 tahun itu tetap datang ke San Siro. Milan tak ambil pusing. Pendekatan tetap dilakukan, bahkan lebih serius ketimbang sebelumnya, mengingat target lainnya, Emmanuel Adebayor, harga bandrolnya terlalu tinggi untuk bisa dipenuhi Milan. Akhirnya, per tanggal 15 Juli 2008 waktu Eropa, Ronaldinho diklaim Milan akan segera bergabung setelah pihak Barcelona dan Rossoneri mencapai kata sepakat seputar transfer pemain yang bersangkutan. Prediksi dan spekulasi pun mengembang. Banyak yang meramalkan Ronaldinho akan menempati posisi di samping Kaka, tepat di belakang penyerang utama, entah itu Filippo Inzaghi, Marco Borriello, atau bahkan Alexander Pato. Bagaimanapun jadinya nanti, bisa disimpulkan bahwa Ronaldinho sudah masuk dalam skuad Il Diavolo Rosso musim ini. Pemain yang lahir pada 21 Maret 1980 di Porto Alegre itu memulai karir profesionalnya di Gremio. Namun sebelumnya ia membuat catatan fantastis ketika berusia 13 tahun, di mana ia membuat timnya menang 23-0 atas tim lokal. Hebatnya, 23 gol yang tercipta kala itu datang dari satu pemain, yaitu Ronaldinho. Penampilan memesonanya berlanjut di Piala Dunia U-17 tahun 1997 di Mesir. Tak salah bila beberapa saat kemudian ia banyak dipertimbangkan banyak klub untuk ditarik keluar dari Gremio. Baru di tahun 2001 Ronaldinho hijrah. Paris Saint Germain adalah tim keduanya setelah Gremio. Hanya dua musim ia bertahan di tim asal Prancis itu dengan memberi kontribusi 17 gol dari 55 kali tampil. Tahun berikutnya, tepatnya 19 Juli 2003, Barcelona menariknya ke Nou Camp. Di tim inilah drama bertitel 'Ronaldinho' dibuka. Mulai dari kesuksesannya membawa Barca juara di berbagai kompetisi domestik dan Eropa, hingga menempatkan dirinya sendiri sebagai Pemain terbaik Dunia versi FIFA tahun 2004 dan 2005. Ia juga dinobatkan sebagai Ballo d'Or tahun 2005 dan mendapat kehormatan sebagai pemain yang menerima penghargaan FIFPro pesepakbola terbaik di tahun yang sama. Layaknya sebuah roda, prestasi Ronaldinho menurun seiring berjalannya waktu. Klimaksnya adalah musim lalu di mana ia tidak dipercaya lagi oleh Frank Rijkaard dan dipinggirkan dari tim utama, sebelum akhirnya diketahui mengalami cedera. Di level timnas juga demikian. Setelah berhasil mengantar Brasil menjuarai Piala Dunia U-17 di tahun 1997 dan tim senior Brasil memenangi Piala Dunia 2002, juga Piala Konfederasi di tahun 2005, ia belum lagi mempersembahkan titel untuk Samba. Bahkan selama Brasil dilatih Carlos Dunga, ia kerap tidak dipanggil karena berbagai alasan. Musim ini, dengan klub baru, Ronaldinho sepatutnya membuat perubahan. Mulai dari target, meningkatkan performa dan gaya hidup yang terkenal glamor. Toh Ronaldinho kini masuk klub yang sangat ingin mengembalikan citranya sebagai raksasa Eropa.

Berdoalah, Mr.Grant

 Para manajer sepakbola biasanya selalu mempunyai gambaran mengenai cetak biru bagaimana timnya harus selalu bermain. Itulah sebabnya manajer selalu berusaha mengumpulkan pemain tertentu yang dianggap akan bisa mewujudkan pola permainan yang dikehendakinya. Idealnya kemudian manajer mempunyai waktu yang cukup (termasuk situasi yang menguntungkan), uang yang cukup, dan dukungan yang cukup baik dari supporter maupun dewan pengelola klub. Namun realita yang dihadapi para manajer bola tidaklah selalu ideal. Atau malah tidak pernah ideal. Ambil contoh apa yang dihadapi manajer Chelsea, Avram Grant. Entah bekal apa yang mendorong manajer asal Israel ini untuk dengan berani mengambil alih posisi Jose Mourinho ketika musim kompetisi sudah separuh jalan. Karena pemain Chelsea yang ada saat ini, sehebat apapun mereka, bukanlah kumpulan pemain yang diinginkan Grant untuk mewujudkan pola permainannya. Grant berjanji untuk menampilkan permainan yang disebutnya lebih atraktif dan lebih avonturir. Tetapi seperti kita lihat, janji itu belum terwujud hingga sekarang. Permainan Chelsea tetap saja seperti ketika masih dipegang Mourinho. Bahkan dengan konsistensi yang berkurang. Tampaknya susah untuk mengubah mentalitas permainan adonan Mourinho dari benak para pemain yang dulunya memang dikumpulkan Mourinho untuk memenuhi pola permainan yang diinginkannya dan terbukti sukses. Grant sekarang berujar yang penting menang dulu, bagaimana pola permainan untuk meraih kemenangan itu persoalan kedua. Kalau memang itu yang diinginkan Grant lalu apa kelebihannya dari Mourinho? Bukan sekadar itu saja. Merebut rasa hormat para pemain itu ternyata juga tidak mudah. Bisa jadi para pemain ini terus membandingkan Mourinho dengan Grant. Mungkin Grant dinilai para pemain tidak cukup hebat dibandingkan dengan Mourinho. Mungkin Grant dianggap tidak sekharismatik Mourinho. Banyak sekali yang terjadi di belakang layar yang tak diketahui orang umum yang membuat spekulasi terus berkembang. Yang jelas kita belakangan mendengar tentang konflik terbuka yang berulangkali terjadi antara manajer dengan para pemain tentang pola permainan yang harus ditampilkan. Bahasa tubuh para pemain Chelsea sama sekali tidak sama dengan ketika mereka menghadapi Mourinho. Ada rasa abai yang sangat kentara terhadap Grant. Para pengamat dan penggemar bola bahkan mengatakan, kalau Chelsea memenangkan sesuatu tahun ini, entah Liga Champions atau Liga Utama Inggris, maka itu disebabkan lebih oleh kumpulan pemainnya yang hebat dan bukan karena manajernya. Karena mereka sebenarnya tak mendengarkan lagi apa kata manajer mereka. Sebuah penilaian yang sungguh menyakitkan bagi ego seorang manajer. Tetapi mestinya Avram Grant sudah tahu sejak awal ketika menggantikan Mourinho. Menggantikan manajer tersukses dari sebuah klub tidak pernah gampang. Menggantikan sebuah legenda, ah ….. lebih susah lagi.

Best Since Best

 Kalau ada di antara pembaca berkesempatan berkunjung ke Irlandia Utara, jangan kaget kalau masih bertemu dengan satu-dua penggemar sepakbola mengenakan replika kaos George Best, baik itu kaos tim nasional maupun Manchester United. Padahal ia sudah tiada sejak tiga tahun lalu, atau lebih 30 tahun setelah ia meninggalkan elit persepakbolaan Eropa. Apa boleh buat, Best memang dewa di negeri kecil itu. Lapangan udara internasional Belfast bernama George Best, wajahnya tercetak di uang kertas lima Poundsterling Irlandia Utara, tembok-tembok luar rumah di negara itu juga masih banyak yang dihiasi lukisan sang maestro dalam berbagai gaya. Dengan bercanda (dan berlebihan mungkin) rakyat Irlandia Utara mengatakan: Maradona good, Pele better, George Best. Para penggemar sepakbola Inggris selalu menganggap George Best adalah pemain terbaik yang pernah bermain di liga mereka. Bergocekan lihai, licin bak belut, berani, tabah, liat, jujur, dan tidak cengeng. Penggemar bola, tak peduli klub yang mereka dukung, mengagumi pemain ini. Silih berganti pemain hebat muncul, baik dari Inggris maupun tanah seberang, tetap saja posisi Best tak tergeser. Kalaupun ada pemain hebat muncul, publik sepakbola Inggris tak pernah lagi bisa bersepakat pemain itu bisa bisa menggantikan Best. Tergantung pemain itu berasal dari klub mana. Yang terbaru tentu saja Cristiano Ronaldo. Best since Best, teriak pendukung Manchester United. Apalagi sebagai pemain sayap ia telah memecahkan rekor Best ebagai pencetak gol yang subur dalam satu musim kompetisi yang 32. Dari segi ketrampilan walau tidak sealami Best tetapi jelas tidak berada di bawahnya. Bahkan bisa lebih matang lagi di tahun-tahun mendatang. Gerak tipunya lebih beragam. Cristiano Ronaldo adalah penari balet dengan bola di kaki. Sejajar dengan pemain bola terbaik manapun yang ada sekarang ini. Ia juga liat dan berani. Dan jelas dia jauh-jauh lebih bagus dalam persoalan tendangan bebas dibanding Best. Bahkan dihadapkan dengan Ronaldinho, Alessandro del Piero, Juninho, dan Beckham, setidaknya sejajar (kalau tidak sedikit lebih baik). Tetapi pendukung klub lain akan dengan cepat menuding Ronaldo cengeng dan sering tidak jujur dengan suka menjatuhkan diri. Kadang seperti meminta perlindungan dari wasit. Best mengalami tekel jaman tahun 60-an dan 70-an, yang datang dari kiri, kanan, belakang, depan. Pendeknya, dari semua penjuru mata angin; bukan sekadar tekel ke arah bola tetapi keras dan kasar, yang kalau bola luput maka kaki sasarannya. Best tidak pernah mengeluh dan tidak pernah menjatuhkan diri. Dia akan menggeleng-gelengkan kepala, tidak percaya dengan tekel yang diarahkan kepadanya, kemudian bangun dan berlari lagi menggiring bola. Tapi pendukung MU menunjuk, seiring waktu (mungkin) Ronaldo akan setegar dan sejujur Best. Bukankah dibandingkan ketika pertama kali datang ke Inggris tahun 2003, sudah sangat jarang Ronaldo menjatuhkan diri? Kalau semua kualitas George Best sebagai pemain sudah terpenuhi atau terlampaui, maka ada satu hal lagi yang harus dilakukan kalau Ronaldo untuk diakui sebagai pemain terbaik yang pernah bermain di Inggris sejak George Best: membawa MU juara Eropa dan meraih gelar pemain terbaik Eropa. Salah satu kritik yang dialamatkan kepada Ronaldo adalah setiap kali menghadapi pertandingan besar maka tiba-tiba saja kualitasnya sebagai pemain hebat menjadi tenggelam. Padahal pemain-pemain bintang justru akan bisa menampilkan permainan terbaiknya, bila pertandingan besar dihadapinya. Itulah sebabnya mereka disebut pemain bintang. Bintang pertandingan bintang. Best telah membuktikan itu semua. Ia tampil mempesona sekaligus mencetak gol indah difinal saat membawa MU juara Eropa 1968. Best yang saat itu baru berumur 22 tahun kemudian menyabet gelar pemain terbaik Eropa. Tentu ia dibantu oleh pemain sekelas Bobby Charlton, Pat Crerand, Noby Stiles, Dennis Law (tidak bermain di final). Tetapi bukankah Cristiano Ronaldo juga punya rekan seperti Rooney, Tevez, Scholes, Ferdinand dan lainnya. Ronaldo baru berumur 23 tahun dan semoga karirnya tidak sependek Best yang mundur di usia 28 tahun. Tetapi sekali lagi hingga ia bisa membawa MU juara Eropa dan menyabet gelar pemain terbaik Eropa atau Dunia, susah bagi publik Inggris untuk menerima status Ronaldo sebagai best since Best. Kalau ia bisa melakukan itu, baru kita tunggu reaksi publik Inggris.

Adakah Harapan Buat Kami?

 Survival of the fittest, kata ilmuwan Inggris Charles Darwin ketika menjelaskan teori evolusinya kepada dunia. Hanya mereka yang terkuat yang akan berjaya untuk terus bisa bertahan hidup. Bukan hanya kuat mengalahkan tantangan alam tetapi juga sesama. Dunia sepakbola begitu sering meminjam ungkapan Darwin ini untuk menggambarkan persaingan dan pertandingan di lingkup kegiatan mereka. Pada prinsipnya semakin kuat satu tim (klub) akan semakin terbuka kesempatan untuk berjaya. Akan tetapi, satu-dua kali anomali terjadi. Mereka yang dianggap lemah tiba-tiba saja muncul berjaya mengalahkan mereka yang lebih kuat. Entah asal kekuatan itu, yang lemah bisa muncul berjaya. Pelatih tinju terkenal yang di antaranya menghadirkan Mike Tyson pada dunia, mendiang Cus D'Amato, bercerita tentang karakter. Ia berbicara tentang tinju tentu saja, tetapi bolehlah penjelasannya kita pinjam untuk sepakbola. Ketika semua persyaratan teknis dan fisik telah terpenuhi, toh ini memang persyaratan dasar dari olahragawan, begitu kata D'Amato, maka karakter (kepribadian) menjadi begitu penting. Karakter menurutnya adalah sumber energi dan inspirasi. Karakter yang kuat akan membimbing orang untuk bisa keluar dari kesulitan ketika yang lain menyerah. Karakter yang kuat akan membuat orang waspada dan bukannya lalai ketika ia sedang unggul. Karakter yang kuat akan memunculkan kecerdikan, ketangguhan, dan kejernihan pada saat diperlukan. Contoh klasik tentu saja ketika Muhammad Ali mengkanvaskan George Foreman tahun 1974 di Kinshasa, Zaire. Foreman baru berusia 26 tahun, di puncak kehebatan fisiknya, lebih besar, lebih kuat, 40 tanding tanpa kalah dengan 37 KO. Ali sudah berusia 32 tahun dan walau lebih cepat tetapi sudah menurun. Ali bukan hanya menjadi underdog tetapi banyak yang mengkhawatirkan keselamatannya. Ali kalah segalanya. Di tengah begitu banyak hujan pukulan yang dilayangkan ke tubuhnya -- yang kalau petinju lain pasti sudah ambruk seperti pohon pisang ditebang--, di tengah kepayahan fisik yang maha hebat, Ali tetap bisa bertahan. Bahkan ia masih bisa cerdik berhitung, Foreman terlalu bernafsu mengumbar pukulan. Ali bertahan, bertahan, dan terus bertahan, sambil mengejek seolah pukulan Foreman tak bertenaga. Dan ketika Foreman terlalu kelelahan di ronde kedelapan, lalu kehilangan akal, lalu tidak percaya diri lagi dengan kemampuannya, kita tahu apa yang terjadi. Apakah Ali lebih kuat? Tidak. Lebih cerdik? Sangat mungkin. Tahan pukulan? Bisa jadi. Tetapi adalah karakter sangat kuat yang dimiliki Ali yang membuat segala kelebihan dan kekurangannya berkonspirasi untuk kemenangannya. Dalam sepakbola persoalan karakter itu menjadi semakin penting nilainya ketika pertandingan menggunakan sistem gugur, bukan kompetisi. Kompetisi (lebih) memerlukan konsistensi. Sistem gugur, sama dengan pertarungan tinju, hanya memberikan satu kesempatan. Sekali kalah, lewat. Satu tim sepakbola bisa saja merupakan kumpulan pemain terbaik dunia, dengan manajer yang hebat, tetapi tanpa karakter yang kuat mereka akan mudah ambruk ketika menghadapi pertandingan dengan sistem gugur. Justru karena semua serba hebat, kalau tidak berkarakter kuat, akan semakin mudah ambruk karena besarnya beban yang harus mereka tanggung. Bukankah kita sering melihat tim yang kita anggap hebat tiba-tiba saja seperti kehilangan taji ketika bermain? Demam panggung? Tampil buruk? Serba salah? Karakter yang kuat akan menghapus semua itu. Ketika ketinggalan gol tidak gugup lalu kehilangan akal. Ketika unggul akan terus waspada dan tidak lalai hingga pertandingan usai. Ketika ditekan habis-habisan bisa mencari jalan keluar dan tidak putus asa. Ketika ritme sedang baik dan melakukan penyerangan akan berbahaya. Liga Champions selalu menarik setelah memasuki sistem gugur. Di sana sini selalu muncul kejutan. Karena yang kita saksikan bukan sekadar keterampilan teknis dan fisik, tetapi juga persoalan karakter. Yang difavoritkan sering larut begitu saja, yang lemah tiba-tiba menguat. Kalau Anda menjagokan tim-tim kuat berharaplah tim Anda berkarakter baja. Ingat, persoalannya bukan semata keterampilan teknis dan fisik tim. Kalau Anda menjagokan tim-tim yang dianggap lemah, percayalah tim kuat tidak kebal dari kesalahan. Dan sekali berbuat kesalahan, lebih sulit bagi tim-tim kuat untuk meluruskan kembali kesalahan itu. Apalagi kalau dibenak mereka terus terbayang "gugur … gugur … gugur…" Selalu ada harapan dalam sistem gugur. Selalu ada harapan.