Sabtu, April 25, 2009

Aku Hanya Antonio Cassano

CAssano (AFP)Mengikuti kehidupan pemain sepakbola Italia, Antonio Cassano, sungguh sangat berbeda dengan menelaah kehidupan pemain sepakbola pada umumnya. Biografi pemain sepakbola biasanya sangat membosankan, penuh dengan cerita seragam, bagaimana keinginan untuk meraih prestasi puncak adalah segalanya. Perjalanan hidup adalah sebuah cerita dedikasi, keprihatinan, kerja keras, kehidupan 24 jam untuk sepakbola. Cassano mendekonstruksi semua itu. Ia mencintai sepakbola dan merupakan salah satu pemain paling berbakat yang muncul dari Italia untuk generasinya, tetapi pada saat bersamaan ia melihat sepakbola sekadar bagian dari kehidupannya. Di atas segalanya ia mencintai kehidupan itu sendiri. Tentu saja kehidupan dalam rumusan Cassano. Hidup bagi Cassano adalah untuk mengejar kesenangan pribadi: perempuan, makan enak -- maksudnya makanan sampah alias junk food, dan foya-foya. Dalam usianya yang baru 26 tahun ia mengaku telah bercinta dengan 600 hingga 700 perempuan. Ketika umur 12 tahun ia sudah membayangkan bercinta dengan guru sekolah dasarnya. Ia mengaku berulang kali diam-diam memasukkan perempuan ke kamar hotelnya malam sebelum bertanding. "Bercinta sepuasnya dan makan: malam yang sempurna," akunya. Seorang komentator sepakbola Italia menyebut Cassano, kalau mau, berpotensi untuk menjadi pemain terbaik dunia. Fisiknya hebat, skill dan tekhniknya di atas rata-rata, di samping mempunyai kecepatan gerak yang mengagumkan. Tak heran kalau Fabio Capello kepincut dan membawanya ke Real Madrid walau harus merogoh 18 juta poundsterling. Cassano baru berusia 22 tahun saat itu. Tapi Cassano adalah pengecualian. Ia berlatih kalau hati sedang lega. Tak segan membantah pelatih, bahkan menentang mereka. "Kalau hari terlalu terik, saya akan bermain di tempat yang teduh," ungkapnya seperti mengisyaratkan tindak tanduk semaunya. Kalau bertanding dan manajer tidak puas dengan penampilannya, ia tak segan membalas, "Kalau tak puas mengapa, bukan kau saja yang turun ke lapangan?" Ia juga tak segan berpura-pura cedera karena malas bermain. Ia mengaku tak khawatir kalau dalam hidupnya sebagai pemain sepakbola tak pernah memenangi satu piala pun. "Dunia ini terobsesi dengan kesuksesan. Seolah kita harus berkorban untuk meraih itu. Pada akhirnya kita ini hanyalah angka statistik. Piala datang dan pergi setiap tahun," katanya. "Kecuali kita Maradona atau Pele, tak akan ada yang mengingat kita," katanya acuh. "Yang penting saya hidup lebih dari cukup dan senang." Ia mengatakan tak hendak mengubah pendekatannya ini. "Paling saya hanya akan memberikan 50 persen dari potensi yang saaya miliki," terserah klub mau mengontrak saya atau tidak, begitu kira-kira kelanjutannya. Sungguh mengherankan bahwa sikap blak-blakan yang diungkapkan oleh Cassano tidak menyurutkan manajer sepakbola untuk mengontraknya. Ia saat ini bermain untuk Sampdoria. Mungkin para manajer sepakbola setelah melihat potensi Cassano berangan-angan merekalah yang akan mampu mengubah perilaku Cassano. Kalau itu bisa mereka lakukan dan Cassano memenuhi potensi kehebatannya, betapa permata ada di tangan mereka. Atau jangan-jangan 50 persen kemampuan Cassano sudah cukup untuk para manajer itu. Atau yang 50 persen itu sebenarnya sudah cukup untuk sepakbola. Bukankah Cassano juga dipanggil untuk tim nasional Italia walau bukan sebagai pemain inti? Bagi dunia sepakbola kasus Cassano mungkin sebuah kehilangan, kesia-siaan bakat, untuk memperkaya khasanah persepakbolaan. Tetapi untuk potret besar kehidupan, terlepas dari setuju atau tidak dengan pemaknaan hidup yang dipegang Cassano, sungguh menyegarkan. Sepakbola bukan segalanya tetapi sekadar sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup yang lain.

Mengenai Posisi Kapten

Tony Adams (ist)Apa sebenarnya peran kapten dalam sebuah kesebelasan sepakbola? Menerjemahkan instruksi pelatih? Menjadi nyawa tim ketika tersudut maupun ketika sedang unggul? Lalu kriteria apa yang harus disandang seorang pemain untuk menjadi kapten? Haruskah ia bintang tim? Haruskah ia memegang posisi tertentu di lapangan, semisal pemain tengah? Haruskah ia pemain paling senior, paling berpengalaman? Ia yang bisa berteriak? Atau ia yang pendiam tetapi menyerahkan setiap perasan keringatnya untuk tim? Susah sekali untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Kapten yang bagus dan sukses ternyata bermacam-macam jenisnya. Tidak ada satu rumusan khusus yang bisa dijadikan model mutlak. Semuanya tergantung nasib dan preferensi pribadi manajer untuk menentukannya. Satu-satunya kesepakatan hanyalah bahwa kapten harus mempunyai otoritas dan tanggungjawab. Singkatnya, jiwa kepemimpinan. Tetapi memang peran kapten dalam sepakbola moderen telah banyak berubah. Kalau membaca sejarah sepakbola Arsenal diakhir tahun 1920-an dan 1930-an, ketika klub London Utara menjadi klub dominan dan paling kaya di Inggris Raya sehingga disebut Bank of England, kapten klub berperan sama besarnya dengan manajer. Adalah kapten Charles Buchan yang meminta manajer Herbert Chapman mengubah peran bermain bertahan untuk menyesuaikan diri dengan peraturan offside yang baru. Chapman menerima usul itu dan keduanya memang dikenal sering berdiskusi mengenai taktik dan strategi permainan. Bahkan belum lama lalu di era moderen, Alex Ferguson dikenal melakukan hal serupa dengan kapten Manchester United, Bryan Robson. Robson yang saat masih aktif dijuluki "Captain Marvel" juga sangat berperan, setidaknya mempunyai suara, dalam menentukan taktik ketika menjadi kapten Inggris. Kini peran dan masukan kapten jelas tidak lagi dominan dalam gambaran keseluruhan permainan. Manajer sepakbola sekarang mempunyai sekian banyak pasukan: tim pelatih, psikolog, nutrisionis, hingga dokter tim. Mereka memberi masukan kepada manajer dari kondisi kesehatan fisik hingga kejiwaan, kesiapan permainan untuk menjalankan model permainan tertentu, hingga hal yang sekecil-kecilnya. Belum lagi adanya sistem permainan yang mengizinkan pergantian pemain hingga tiga, membuat tidak satu pun pemain terjamin posisinya termasuk sang kapten. Kapten masih bisa memberi masukan mengenai atmosfer ruang ganti, tetapi hanya sebatas itu. Jangan salah. Bukan berarti di era moderen posisi kapten kemudian menjadi tidak penting. Di lapangan ia tetaplah berperan. Dalam banyak hal dialah orang yang paling dipercaya oleh manajer untuk merekat tim agar bergerak sebagai satu unit, untuk tetap mengingatkan akan instruksi yang diberikan manajer. Siapa kapten yang dipilih, seperti tersebut di atas, betul-betul tergantung kepada selera manajer. Ia, manajer, adalah yang paling paham dengan tim maupun karakteristik tim yang ia bentuk, dan karenanya yang paling tahu siapa yang paling tepat. Misalnya ketika manajer Arsenal dua minggu lalu menjadikan Cesc Fabregas kapten menggantikan William Gallas banyak dahi berkerut. Benar Fabregas adalah denyut jantung permainan Arsenal, tetapi tidakkah di umur 21 tahun ia terlalu muda? Tentu saja umur tidak bisa dijadikan ukuran. Bukankah legenda Arsenal, Tony Adams, menjadi kapten bahkan empat bulan lebih muda dari Fabregas? Ia memenangi empat kompetisi liga dan tiga Piala FA. Carlos Bilardo memilih Diego Maradona sebagai kapten tim Argentina yang memenangi Piala Dunia 1986 karena ia bintang tim. Maradona tidak berteriak-teriak menyemangati tim ataupun akan rajin bertahan serajin ia menyusun serangan. Akan tetapi dari otak dan kakinya adalah segala serangan berawal. Pelatih asal Italia sangat menyukai pemain bertahan sebagai kapten tim. Mungkin karena secara insting sepakbola Italia menyukai pertahanan yang kuat sebagai fondasi permainan. Carlos Alberto Parreira menjadikan Dunga sebagai kapten Brasil saat memenangi Piala Dunia 1994 walau ia dianggap pemain lapis kedua dari sisi skill. Tetapi Dunga adalah pemain yang menurut Parreira paling bisa mengikat tim dalam satu permainan yang menyeimbangkan pertahanan dan penyerangan. Alex Ferguson mengaku menyukai Bryan Robson dan Roy Keane sebagai kapten. Tipe keduanya sama, box to box player. Keduanya akan lari sepanjang hari dari kotak penalti sendiri ke kotak penalti lawan, sama gigihnya saat menyerang dan bertahan serta tidak segan berteriak kepada koleganya untuk menjaga konsentrasi dan memeras keringat. Sulit memang merumuskan model ideal kapten. Namun yakinlah, manajer sepakbola tidak akan sembarangan mengapa mereka memilih pemain tertentu dan bukan yang lainnya.

Wasit: Berkuasa dan Dicerca

wasit & Terry (AFP/Paul Ellis)Di Inggris sedang ada kampanye besar-besaran untuk menghormati wasit. Sebuah ide mulia dan memang seharusnya, tetapi juga sebuah absurditas mengingat evolusi atau bahkan revolusi yang telah terjadi dalam dunia sepakbola. Sepakbola, seperti juga permainan lain, awalnya adalah sebuah permainan untuk sekadar bersenang-senang, melupakan rutinitas kehidupan sehari-hari. Sebuah permainan untuk membantu membangun karakter pribadi dan kolektif. Selesai bertanding orang boleh tidak puas, puas, menggerutu, bergembira, bersedih, tapi kemudian melupakan semuanya dan kembali ke kehidupan sesungguhnya. Kembali ke rutinitas sehari-hari. Tetapi kini sepakbola bagi mereka yang terlibat dalam dunia sepakbola ini adalah kehidupan itu sendiri. Sepakbola telah menjadi ekspresi pribadi, sosial, politik, dan ekonomi. Nilai kehidupan tergantung padanya. Dalam situasi ini sangatlah absurd bila hakim, administrator, arbitrator, penentu hitam putihnya di lapangan, masih juga dipegang tunggal oleh wasit -- kecuali kalau wasit adalah entitas maha sempurna tentunya. Setiap pekan kita bisa melihat sendiri bagaimana wasit sering melakukan kesalahan. Murni bukan kesengajaan. Entah karena lalai, tidak melihat dengan jelas, pemain yang dengan cerdik berpura-pura, dan berbagai sebab lain. Para komentator sepakbola ataupun penonton televisi diuntungkan oleh replay yang kadang sampai berulang-ulang dengan sudut beragam, tetapi wasit tidak punya kemewahan itu dan harus mengambil keputusan seketika. Betapa susahnya. Bayangkan perumpamaan ekstrim ini. Dalam pertandingan penentuan degradasi Premier League seorang wasit memutuskan tendangan penalti di detik terakhir dan menjadi penentu kemenangan-kekalahan sebuah tim. Kalau keputusan itu benar tidak akan menjadi masalah. Atau menjadi masalah tetapi dengan dimensi yang lain. Tetapi bagaimana kalau salah? Satu keputusan salah itu jutaan poundsterling nilainya. Juga bisa merupakan garis tipis dipecat tidaknya seorang manajer, hengkangnya para pemain bagus dari klub bersangkutan, menyangkut kehidupan sosial dan ekonomi mereka yang terlibat menjalankan kehidupan keseharian klub. Belum lagi berbicara dampak psikologis kolektif bagi pendukung yang kalah secara tidak adil. Para sejarawan sepakbola tentu tidak akan melupakan babak kualifikasi Piala Dunia 1970 antara Honduras dan El Savador tahun 1969. Ketegangan antara dua negara bertetangga di Amerika Tengah yang tidak ada hubungannya dengan sepakbola itu akhirnya menjadi perang terbuka, setelah kedua negara ini bertanding sepakbola. Bayangkan peran dan perasaan wasit di pertandingan itu. Dengan taruhan yang begitu besar dan kemampuan wasit yang sangat terbatas tetapi keputusannya sangat amat menentukan, tak pelak wasit mudah sekali menjadi sasaran tembak ketidakpuasan. Terutama sekali pemain, manajer, dan penonton, serta tak ketinggalan komentator sepakbola, tidak pernah berberat tangan untuk menghujat mereka. Itulah sebabnya kampanye agar wasit dan keputusannya dihormati 100 persen adalah sebuah absurditas konyol. Para manajer mengatakan mereka akan menghormati wasit kalau wasit bisa konsisten dan sempurna. Ini kekonyolan dalam bentuk lain. Ini seperti menuntut manusia untuk selalu sempurna setiap saat. Padahal apakah pemain juga bersikap sempurna kalau mereka sering berpura-pura menjatuhkan diri, menarik kaos lawan, dan memprotes keputusan yang sudah sempurna? Apakah manajer juga bersikap sempurna ketika menerima keputusan wasit yang salah tetapi menguntungkan timnya, tetapi begitu dirugikan segala macam perbendaharaan makian mereka keluarkan? Masih beruntung menjadi wasit di Eropa atau di Inggris ini, coba kalau di Indonesia. Bukan sekadar hujatan yang diterima, bogem mentah dan ketupat bengkulu pun sering dilontarkan. Mengerikan.

Ketika Uang Berbicara

Fabregas-Ferdinand (Reuters)Jadi apa yang harus dilakukan ketika muncul kesadaran bahwa kekurangan adalah satu- satunya "kelebihan" yang dipunyai ketika menghadapi lawan? Tidak banyak tentu saja kecuali kesadaran akan kekurangan itu sendiri. Pertanyaannya kemudian adalah apa yang harus dilakukan ketika benturan benar terjadi? Pertanyaan inilah yang selalu dihadapi klub-klub "kecil" Inggris setiap harus bertanding dengan klub-klub elit. Klub dengan sumber daya terbatas melawan klub bersumber daya yang lebih longgar. Klub dengan sumber finansial terbatas dengan mereka yang lebih kaya. Sebenarnya perbedaan antara mereka yang mempunyai kelebihan dengan yang berkekurangan hanyalah pada persoalan keragaman pilihan. Opsi. Tetapi mempunyai keragaman pilihan adalah sebuah kemewahan dan segalanya dalam sepakbola. Katakanlah dalam sebuah pertandingan, ketika situasi tidak sesuai dengan harapan, manajer yang bagus akan dengan jeli mempunyai ide untuk mengubah taktik dan strategi, serta mempunyai sumber daya untuk melakukannya. Atau dengan sumber daya yang cukup -- pemain yang bagus -- manajer yang bagus akan dari semula bisa merancang sekian macam skenario taktik dan strategi untuk memenangkan pertandingan. Lalu apakah itu berarti klub kecil akan selalu kalah dari klub elit? Lebih sering kalah, tetapi tidak selalu. Klub kecil, karena terbatasnya pilihan, terbantu untuk kemudian berkonsentrasi pada satu taktik saja dan kemudian mematangkannya secara maksimal. Ini bisa menjadi sebuah keuntungan. Misalnya dengan merancang serangan semata-mata dari bola mati, baik itu tendangan bebas, tendangan sudut, atau lemparan bola. Misal lain, bertahan total dan sekali-kali melakukan serangan balik. Seperti seharusnya inisiatif serangan tentu saja berada di pihak klub yang lebih besar. Toh klub besarlah yang menyandang beban ekspektasi kemenangan, bukan klub kecil. Klub besarlah yang harus mengubah taktik dan strategi mereka untuk meraih kemenangan. Taktik atau strategi semacam ini sangat kentara terutama dalam pertandingan non kompetisi yang menggunakan sistem gugur. Piala FA dan Piala Liga di Inggris dikenal sebagai kuburan klub-klub besar, tumbang ditangan klub yang lebih inferior karena faktor ini. Namun perangai dalam kompetisi tentu saja berbeda. Kompetisi memerlukan konsistensi. Dan konsistensi sangat sulit dijaga apabila sumber daya tidak mencukupi. Kalau diperhatikan, klasemen Premier League dari tahun ke tahun adalah cerminan hampir sempurna dari ukuran kekayaan klub-klub yang terlibat. Bukanlah kebetulan kalau di Inggris dikenal istilah elit empat besar, istilah yang sebenarnya baru muncul 10 tahun belakangan ini. Manchester United, Chelsea, Liverpool, Arsenal adalah klub dengan dukungan keuangan yang cukup dan karenanya mampu menyewa manajer dan pemain yang bagus. Merekalah yang paling mempunyai keragaman pilihan untuk menjaga konsistensi penampilan. Gambaran besarnya, di papan tengah adalah klub-klub kelas menengah dengan kekayaan menegah pula dan pemain maupun manajer kelas menengah pula. Di papan bawah cerita serupa juga terjadi. Setiap tahun bahkan sebelum kompetisi dimulai para pengamat maupun penggemar bola dengan gampang bisa meramalkan siapa yang kira-kira akan juara, mengalami degradasi, ataupun duduk di papan tengah dengan relatif akurat. Sebenarnya bukan hanya di Inggris. Kalau diperhatikan di kompetisi lain di daratan Eropa pola semacam juga terjadi. Bahkan di Liga Champions ketika sistem pertandingannya diubah menjadi semi kompetisi dari sistem gugur, maka mereka yang masuk ke semifinal ataupun final selalu saja didominasi oleh klub-klub elit Eropa. Sekali lagi konsistensi karena tunjangan sumber finansial yang cukup menjadi kunci. Jarang sekali misalnya klub seperti FC Porto mampu menerobos membuat kejutan untuk menjadi juara. Atau seperti di masa lalu ketika klub Inggris seperti Notingham Forest, dua kali berturut-turut, dan Aston Villa, bisa menjadi juara Piala Champions. Bahkan klub semacam FC Bruges dari Belgia bisa masuk final Piala Champions. Apa boleh buat, dalam dunia nyata uang memang berbicara.