Sabtu, April 25, 2009

'Appy Arry' Sang Tukang Kelontong

Harry Redknapp (Reuters)Poplar adalah bagian dari jaringan pelabuhan kuno London di sepanjang Sungai Thames di London. Persisnya terletak di wilayah London Timur, berhadapan dengan daerah Greenwich di seberang sungai Thames yang hingga sekarang terkenal dengan garis waktu meridian-nya atau GMT. Hingga tahun 1960-an daerah pelabuhan ini masih berfungsi dengan ramai. Dihubungkan langsung ke London dengan sebuah jalan bernama Commercial Road, nama jalan yang jelas merujuk pada kesibukan kegiatan ekonomi. Segala macam kegiatan ekonomi terjadi. Dari buruh pelabuhan, toko kelontong, hingga bisnis besar berputar di sini. Daerah yang keras tetapi mempunyai kebersamaan yang tinggi. Pelabuhan di sepanjang Sungai Thames sekarang sudah tidak ada lagi. Daerah Poplar dan sepanjang Commersial Road sekarang dipenuhi imigran asal Anak Benua Asia: Pakistan, India, dan Bangladesh. Haryy Redknapp, manajer baru Tottenham Hotspur, lahir dan dibesarkan di daerah ini. Adakah pengaruh masa kecil hingga remajanya berbekas mendalam di hati Redknapp? Entahlah, ia tidak pernah mengatakan dan tidak pernah mencoba menjelaskan. Tetapi ada beberapa kualitas khas Redknapp yang sepertinya cerminan dari mereka yang dibesarkan di daerah seperti Poplar ini: lugas cenderung kasar, mempunyai rasa kebersamaan yang tinggi, cerdik memanfaatkan situasi apapun untuk mendulang keuntungan sesaat. Di kalangan bola Inggris Redknapp dikenal sebagai tukang kelontong, wheeler dealer, mengumpulkan barang bagus yang sudah menjadi rongsokan, lalu digosok ulang agar tampil bagus; atau menyulap barang bermasalah menjadi layak hukum. Tentu itu tafsiran kasar. Bisa diterjemahkan sebagai cibiran ataupun ungkapan kekaguman. Yang dimaksud sebenarnya adalah kemampuan khas Redknapp untuk membeli pemain tua yang sudah menurun penampilannya, dengan harga potongan, lalu ia poles sedemikian rupa sehingga bisa tampil walau tidak seratus persen namun maksimum. Atau ia ambil pemain yang ditolak berbagai klub karena yang bersangkutan membawa bagasi persoalan yang terlalu banyak. Lalu ia rangkul agar yang bersangkutan terkontrol dan bisa tampil bagus. Tentu saja persyaratannya juga sama: harganya harus murah. Ia juga lihai memanfaatkan situasi. Banyak pemain bagus di klub besar Eropa tetapi tidak mempunyai kesempatan bermain. Ia dengan cerdik menawar mereka bukan untuk dibeli tetapi sekadar diberi kesempatan bermain secara reguler. Ia sekadar membayar gaji pemain yang bersangkutan. Yang hebat adalah ia kadang bisa bernegosiasi untuk misalnya hanya membayar separuh dari gaji pemain yang bersangkutan, sementara separuhnya tetap dibayar klub dari klub pemain itu berasal. Catatan manajerial Redknapp sejak di Bournemouth, West Ham, Southampton, dan Portsmouth adalah seperti itu. Mendaur ulang pemain adalah kelebihannya. Kalaulah Arsene Wenger dan Alex Ferguson dikenal mampu menampilkan pemain muda ke gemerlap panggung persepakbolaan, sebenarnya tidak adil kalau Redknapp tidak disebutkan. Ia mempunyai perhatian yang tak kalah hebat untuk persoalan ini. Lihatlah beberapa yang sekarang berkiprah di tim nasional Inggris: Rio Ferdinand, Joe Cole, Frank Lampard, Michael Carrick, Jermain Defoe. Semuanya muncul di bawah polesan akademi West Ham saat ia memegang klub itu. Belum lagi sejumlah nama lain yang sekarang bermain di klub-klub Inggris lain. Cara Redknapp memposisikan diri di kalangan pemain juga merupakan kekuatan lainnya. Komunikasi adalah kekuatan Redknapp. Ia bisa menyampaikan pesan dengan lucu, kadang kasar, tetapi jujur. Contoh paling mutakhir ketika Tottenham ketinggalan 1-0 dari Liverpool dan ditekan habis-habisan oleh kuartet pemain tengah Liverpool. Menyadari kalah kualitas di tengah, Redknapp malah mengurangi pemain tengah dan menambah pemain bertahan serta memasukkan striker tambahan yang tinggi besar. Pesannya sederhana, jangan bangun serangan dari bawah tetapi tendang bola jauh-jauh ke depan melambung melewati pemain tengah Liverpool. Roman Pavlyuchenko, striker Tottenham asal Rusia, bingung dengan peran yang harus dilakukan karena ketambahan satu striker lain. Redknapp dengan tenang mengatakan: "Just f**** run about." Maksudnya, sikat-sikat saja, bikin kacau lini belakang Liverpool. Entah apa yang terjadi tetapi yang jelas Pavlyuchenko mencetak gol kemenangan Tottenham. Di hadapan anak cucunya, Redknapp tidak pernah mengeluarkan kata makian. Setidaknya itu pengakuannya. Tetapi di kalangan teman dan pemain, kata makian bisa menjadi subyek, obyek maupun predikat dalam kalimatnya. Bahasa Ingrisnya penuh dengan kata-kata slang Inggris anak pelabuhan London Timur. "Appy Arry," begitu julukannya. Ini juga khas pengucapan bahasa Inggris London Timur atau dikenal dengan aksen Cockney, yang selalu menyembunyikan konsonan H dalam pengucapan. Harry yang selalu gembira. Sikap yang sebenarnya khas milik orang Cockney. Selalu gembira, selalu bisa memanfaatkan situasi sempit dan mengubahnya menjadi kesempatan, selalu optimis, pekerja keras walau tampil santai. Memang dalam karir manajerialnya selama 25 tahun baru sekali ia memenangi piala, yaitu Piala FA 2008 bersama Portsmouth. Bukan berarti ia tidak hebat, karena ia tidak pernah memegang klub besar. Kini ia memegang Tottenham Hotspur, salah satu klub raksasa yang terlalu lama tidur panjang. Bisakah "Appy Arry" sukses? Semuanya berawal menggembirakan. Mengalahkan Liverpool dan Bolton serta seri melawan musuh abadi Arsenal, entah selanjutnya.

Resesi dan Nasib Liga Inggris

Emmanuel Adebayor (Reuters)Krisis keuangan dunia jelas mempengaruhi roda kehidupan klub-klub Liga Primer Inggris. Mereka tak bisa lagi menghamburkan uang lebih banyak dari liga manapun di dunia. Tetapi bukan berarti mereka kemudian akan ambruk. Dalam ramalan pakar ekonomi di negeri ini, klub-klub Premiership akan bisa mengarungi krisis selama setidaknya dua tahun ke depan. Ramalan ini didasarkan pada beberapa faktor. Pertama tentu saja kontrak tayang televisi senilai 2,7 miliar poundsterling atau sekitar Rp 44 triliun hingga musim kompetisi 2009/2010. Berbeda dengan industri lain yang harus mengarungi masa susah untuk sekadar mempertahankan pemasukan, industri bola Inggris sudah terjamin pemasukannya sampai dua tahun ke depan. Dan lagi, di tengah protes akan harga tiket yang tinggi, gaji pemain yang tak masuk akal, dan kejenuhan eksploitasi komersial sepakbola, tetap saja olahraga ini terus berkembang di seluruh dunia dan penggemar sangat patuh mengikutinya. Artinya uang tetap juga terus masuk dari sisi ini. Dengan kondisi ini bukan berarti penyelenggara liga utama ataupun klub-klub liga utama Inggris lalu tenang tentram. Mereka tahu bahwa krisis keuangan hanyalah satu langkah jauhnya dari resesi. Dan kalau resesi sampai terjadi, beberapa kalangan di Inggris mengatakan sudah terjadi, maka tak ada tempat bersembunyi lagi. Logika sederhananya, resesi ekonomi membuat pabrik dan perusahaan -- apapun bidangnya -- akan kekurangan modal untuk memutar industrinya. Akibatnya, volume produk harus dikurangi. Dan karena volume produk dikurangi maka jumlah pegawai pun ikut dikurangi. Ketika PHK dalam jumlah besar terjadi akibatnya daya beli masyarakat secara umum menurun. Pengencangan ikat pinggang dilakukan dengan membeli hanya kebutuhan pokok Lalu produk-produk non-pokok seperti segala hal yang menyangkut sepakbola dihilangkan dari menu konsumsi. Celakanya kalau resesi terjadi, pemulihannya berkaca pada sejarah, tidak akan memakan waktu yang pendek. Masa prihatin akan lebih lama lagi dan akan banyak klub sepakbola kelimpungan. Yang lebih celaka lagi khusus untuk liga utama Inggris, mereka ini sudah menghipotekkan pemasukan dari hak tayang televisi untuk meminjam uang guna membeli pemain maupun membiayai pembangunan ataupun pembesaran stadion. Sebetulnya kalau krisis keuangan tidak berlanjut pada resesi, maka hal ini tidak akan menjadi masalah, karena pemasukan dari penjualan merchandise, tiket stadion, sponsor kaos dan stadion dalam jangka panjang akan menutupi. Klub-klub kecil daya tahannya lebih pendek karena jumlah pengikutnya juga lebih sedikit, dan kompetisi yang mereka ikuti juga lebih sedikit dan kalah bergengsi. Pemasukan dari sisi hak tayang televisi juga lebih sedikit. Namun klub-klub besar juga berdebar-debar. Katakanlah mereka yang ikut berkompetisi di tingkat Eropa. Pemasukan mereka lebih besar dengan tambahan hak tayang Liga Champions dan Piala UEFA. Tetapi biasanya utang mereka juga lebih besar. Empat besar liga Inggris terus mengikuti perkembangan dengan khawatir. Klub seperti Chelsea bisa dikatakan beruntung karena pemiliknya Roman Abramovich memberi pinjaman lunak kepada Chelsea dari kantongnya sendiri. Nanti kalau Chelsea sudah mendatangkan untung maka akan dengan sendirinya mencicil utang itu kepada Abramovich. Problem kata orang hanya akan muncul kalau Abramovich mengalami kesulitan politik yang berimbas pada orang mempertanyakan keabsahan asal uangnya. Manchester United dulunya adalah klub tanpa utang. Tetapi keluarga Glazer ketika membeli MU mereka meminjam uang ke Bank dan lalu membebankan utang pembelian itu keklub yang mereka beli. Cerdik, walau tentu ada yang mengatakan licik. Beruntung bahwa penggemar klub ini berjibun sehingga kekuatan keuangan mereka tergolong kuat, hingga saat ini. Kalau resesi menghantam mereka akan benar-benar mengalami kesulitan. Pemilik Liverpool melakukan trik serupa dengan Glazer. Hanya saja dalam jumlah yang lebih kecil. Arsenal terbebani utang pembangunan stadion. Kalau mereka tetap juga tak segera mendulang prestasi juara, pasar penggemar mereka akan sulit membesar dan itu akan menjadi problem tersendiri di masa resesi.

Enigma Monsieur Wenger

REUTERSMenonton Arsenal di bawah asuhan Arsene Wenger adalah keindahan tersendiri. Layaknya mesin dengan pelumas yang serba tepat, mulus berputar, dengan presisi gerakan yang memukau. Bola di kaki para pemain bergerak terus menerus seperti meluncur, melayang kata pengagumnya, sedikit di atas rumput. Dan sebelum sempat mata berkedip satu gol memukau telah tercipta. Arsene Wenger adalah maestro keanggunan. Ia paham benar akan esensi sepakbola indah. Dialah keindahan itu. Namun keindahan hanyalah satu sisi saja dari permainan sepakbola. Bagaimana dengan yang namanya kegigihan? Bagaimana dengan tekad membara? Bagaimana dengan yang namanya otot dan tulang, ketika keadaan memaksa untuk beradu kaki dan liat tubuh? Bagaimanapun sepakbola adalah olahraga fisik yang tidak menabukan "bentrok fisik" untuk menguji besar hati lawan. Hal inilah yang sering tidak dipahami oleh pengamat bola akan Arsene Wenger. Sebagai seorang yang cerdas, menguasai lima bahasa dan meraih gelar di bidang ekonomi, Wenger seperti mengabaikan faktor lain dalam sepakbola, seolah keindahan hanyalah satu-satunya. Atau, tidakkah interpretasi keindahan juga bisa mengikutkan faktor ketangguhan -"kekerasan"- fisik dan tekad yang membara. Tak heran Arsenal selalu kesulitan menghadapi tim yang secara teknis inferior tetapi secara fisik intimidatif. Apalagi kalau berhadapan dengan tim yang secara tekhnis sepadan dan secara fisik lebih kuat. Sang professor, demikian julukannya, selalu berkilah kalau lawan bermain seperti timnya, maka tidak akan ada yang bisa mengalahkan Arsenal. Ia menganggap gaya bermain Arsenal adalah satu-satunya yang mencerminkan bagaimana sepakbola seharusnya dimainkan. Ya, tetapi bukankah cara bermain Arsenal bukanlah satu-satunya cara bermain? Wenger juga diakui sebagai salah satu pelatih bola yang mampu melihat permata terpendam dan memolesnya menjadi permata yang hebat. Tak terhitung jumlah pemain muda dari antah berantah yang ia ambil, poles, yang kemudian bersinar menjadi bintang. Sekali dua dia membeli pemain yang sudah cukup punya nama. Namun jarang ia lakukan. Ada satu teori mengapa Wenger enggan membeli bintang tetapi lebih senang memoles yang terpendam untuk menjadi bintang. Karunia sentuhan Midasnya dalam memoles pemain muda tidak diikuti dengan karunia untuk mengelola pemain bintang. Pemain bintang, apa boleh buat, biasanya juga membawa sekian macam ego di punggung mereka. Menjadikan mereka hanya bagian dari sebuah tim bukanlah pekerjaan mudah. Biarpun sumbangan mereka mungkin akan besar untuk tim, tetapi biasanya pemain bintang mempunyai terlalu banyak urusan yang harus diselesaikan diluar sepakbola itu sendiri. Mungkin karena itulah Wenger tidak menyukainya. Bahkan pemain polesannya, begitu bintang mereka bersinar terlalu terang, ia cenderung untuk kemudian menjualnya. Ia tidak cukup sabar atau cukup punya waktu untuk memahami ego pemain itu. Kalau pemain memang memilih ego ketimbang tampil memukau dalam kerangka permainan indah racikannya, maka lebih baik pemain itu dijual. Ia enggan mengakomodasi ego. Toh akan selalu ada pemain temuannya yang bisa menggantikan. Kehebatan lain Wenger tentu saja kekeraskepalannya. Ia kadang seperti buku yang tertutup. Ketika ia teguh bersikukuh apa yang ia yakini adalah benar maka tak ada kritik yang akan ia dengar. Walau tahun terus berhitung dengan Arsenal tanpa gelar.

Matinya Manajer Klub Sepakbola

Keegan (Reuters/Nigel Roddis)Pelan tapi pasti ada perubahan besar dalam dunia persepakbolaan Inggris. Sebentar lagi mungkin "manajer klub sepakbola" di Inggris akan kehilangan peran dan digantikan oleh mereka yang bertitel direktur teknis atau direktur sepakbola atau semacamnya. Manajer klub sepakbola di Inggris mungkin akan sebentar lagi sekadar gelar pelatih. Gejala itu semakin jelas dengan mundurnya dua manajer sepakbola anggota Premier League dalam satu minggu ini. Pertama Alan Curbishley dari West Ham United dan kedua Kevin Keegan dari Newcastle United. Dua-duanya mundur dengan alasan yang serupa: sebagai manajer mereka tidak lagi berperan dalam keluar masuknya pemain. Mereka tidak lagi bisa menentukan pemain mana yang ingin mereka beli maupun pemain mana yang ingin mereka jual. Untuk Curbishley kartu matinya adalah penjualan Anton Ferdinand dan George McCartney ke Sunderland. Sementara untuk Keegan penjualan James Milner ke Aston Villa serta selentingan akan dijualnya Michael owen. Padahal bagi para manajer ini, hak prerogatif ini mutlak perlu mereka miliki karena pada dasarnya manajerlah yang mempunyai bayangan perihak bentuk permainan yang diinginkan. Dengan memiliki pemain tepat seperti yang mereka inginkan, maka wujud permainan yang mereka mau otomatis bisa dilaksanakan. Setidaknya itu logikanya. Setidaknya itu yang terjadi di Inggris selama ini. Mundurnya Curbishley dan Keegan karena alasan seperti ini sebetulnya bukanlah yang pertama. Masih ingatkah dengan Jose Mourinho di Chelsea musim kompetisi lalu? Mirip sekali. Pada awalnya Mourinho diberi kebebasan untuk membeli pemain atau membuang pemain. Tetapi seiring waktu kebebasan Mourinho semakin terpangkas. Berdatanganlah pemain yang dibeli tanpa persetujuan Mourinho. Yang paling mendapat sorotan tentu saja datangnya Andriy Shevchenko dari AC Milan. Sehebat apapun Sevchenko tetapi Mourinho merasa ia bukan pemain yang tepat untuk timnya, dan malah mungkin hanya mengganggu keseimbangan tim saja. Tetapi apa boleh buat, Sevchenko telah dibeli. Konon bukan sekadar oleh direktur tekhnis Frank Arnessen ataupun direktur klub Peter Kenyon, tetapi langsung oleh sang pemilik Chelsea Roman Abramovich. Merasa wewenangnya terganggu Mourinho pun cabut. Apa yang terjadi di West Ham maupun Newcastle, atau Curbishley dan Keegan dalam hal ini, seperti mengikuti apa yang terjadi di Chelsea. Hampir pasti akan diikuti oleh klub-klub lain di Inggris. Penyebabnya sederhana saja, semakin banyak klub Inggris ini dimiliki oleh orang asing yang melihat secara lebih praktis: melihat klub sebagai sebuah perusahaan (pribadi). Akibatnya mereka menatanya juga layaknya perusahaan. Ada pemilik, dewan direktur dengan sekian tugasnya masing-masing, lalu ada manajer, dan tentu saja buruh (pemain). Posisi manajer klub yang sebelumnya begitu berkuasa, pelan tapi pasti ditiadakan. Toh sehebat apapun mereka, manajer sepakbola tidaklah lebih dari sekadar buruh. Satu sekrup dalam sebuah putaran perusahaan. Posisi mereka terdegradasi tak lebih dari sekadar pelatih sepakbola, bukan lagi manajer klub. Manchester City yang baru saja dibeli oleh perusahaan investasi Abu Dhabi sudah menunjukkan gejala seperti itu. Walau pernyataan yang keluar dari klub itu menyebut Mark Hughes sebagai manajer akan diberi kebebasan penuh mengelola sisi persepakbolaannya, tetapi siapa yang membeli Robinho? Sewaktu pembelian terjadi Hughes mengaku sama sekali tidak tahu karena ia sedang bermain golf. Pemilik Man City sekarang berkoar akan berusaha membeli Cristiano Ronaldo, Fernando Torres, dan Cesc Fabregas. Bukan Mark Hughes yang mengatakan itu. Klub besar Inggris dengan manajer klub berperan layaknya sebagai manajer klub tinggal ada dua: Manchester United dan Arsenal. Selebihnya mulai berguguran. Kalau klub-klub kecil Inggris juga akhirnya nanti dibeli oleh orang kaya (asing), kemungkinan tren semakin tak berperannya manajer klub akan semakin besar. Apalagi kalau MU dan Arsenal juga mengikuti tren itu, selamat tinggallah gelar manajer klub sepakbola di Inggris.